Gentengisasi Prabowo vs Klaim Pramono, Menakar Masa Depan Bangunan Jakarta
Isu perumahan menjadi sorotan tajam setelah Presiden terpilih menyerukan program Gentengisasi Prabowo dan bangunan Jakarta yang lebih manusiawi. Program ini bertujuan mengganti atap seng yang panas dengan genteng tanah liat atau material yang lebih sejuk. Namun, klaim menarik muncul dari mantan Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, yang menyebut bahwa mayoritas bangunan di Jakarta sebenarnya sudah minim penggunaan seng. Apa Itu Program Gentengisasi Prabowo? Program "Gentengisasi" merupakan gagasan yang diusung oleh Prabowo Subianto untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat di pemukiman padat. Beliau menekankan bahwa penggunaan atap seng di kawasan kumuh membuat suhu ruangan menjadi sangat panas dan tidak sehat. Oleh karena itu, kebijakan ini mendorong penggunaan genteng yang lebih ramah lingkungan dan mampu meredam panas matahari dengan baik. Prabowo ingin memastikan bahwa rumah rakyat kecil memiliki standar kenyamanan yang layak, dimulai dari atap yang mereka gunakan sehari-hari. Klaim Pramono Anung, Bangunan Jakarta Sudah Modern? Di sisi lain, Pramono Anung memberikan perspektif berbeda mengenai kondisi Gentengisasi Prabowo dan bangunan Jakarta. Menurutnya, jika kita melihat pemetaan udara atau survei di lapangan, banyak bangunan di Jakarta yang sudah beralih dari seng ke material lain. Berikut adalah beberapa poin yang mendasari klaim tersebut: Penggunaan Atap Dak Beton: Banyak rumah di Jakarta kini menggunakan dak beton untuk efisiensi lahan. Material Spandek Berinsulasi: Meski terlihat seperti seng, banyak bangunan menggunakan spandek yang sudah dilengkapi peredam panas. Regulasi Bangunan: Peraturan Gubernur terkait bangunan hijau mulai menekan penggunaan material yang tidak efisien energi. Meskipun demikian, Pramono tetap mengapresiasi semangat perbaikan kualitas hunian, namun ia mengingatkan bahwa data di lapangan harus menjadi acuan utama sebelum kebijakan masif dijalankan. Dampak Atap Seng terhadap Kesehatan dan Lingkungan Mengapa isu ini begitu penting bagi warga Jakarta? Penggunaan seng pada hunian padat penduduk memberikan dampak negatif yang nyata. Selain menciptakan suhu ekstrem di dalam ruangan, seng juga berkontribusi pada fenomena Urban Heat Island. Pramono menekankan bahwa tantangan Jakarta bukan sekadar mengganti seng, melainkan menyediakan hunian vertikal yang lebih tertata. Sementara itu, kubu Prabowo tetap konsisten bahwa estetika dan kenyamanan hunian horizontal di perkampungan tetap harus mendapat perhatian melalui program Gentengisasi tersebut. Menghubungkan Visi Pusat dan Kondisi Jakarta Perdebatan mengenai Gentengisasi Prabowo dan bangunan Jakarta ini menunjukkan adanya perbedaan sudut pandang dalam melihat masalah kemiskinan kota. Prabowo melihat dari sisi material bangunan fisik yang bersentuhan langsung dengan rakyat, sementara Pramono melihat dari sisi modernisasi struktur bangunan yang sudah berjalan. Tantangan Implementasi Gentengisasi Beban Struktur: Genteng tanah liat jauh lebih berat daripada seng, sehingga membutuhkan rangka atap yang lebih kuat. Biaya Renovasi: Banyak warga di pemukiman padat yang mungkin tidak memiliki biaya untuk memperkuat struktur rumah mereka. Logistik Kota: Distribusi material genteng di gang-gang sempit Jakarta menjadi tantangan teknis tersendiri. Mana yang Lebih Dibutuhkan Warga? Akhirnya, baik program Gentengisasi maupun klaim mengenai modernisasi bangunan memiliki tujuan yang sama: kesejahteraan warga. Jakarta memang membutuhkan transformasi besar agar tidak lagi terlihat seperti hutan seng yang gersang jika dilihat dari udara. Sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat krusial. Program perbaikan atap ini harus berjalan beriringan dengan penyediaan akses air bersih dan sanitasi yang layak bagi seluruh warga Jakarta.
