1.387 Hektare Sawah di Tangerang Terendam Banjir, 194,5 Hektare Gagal Panen
Sektor pertanian di Provinsi Banten sedang menghadapi tantangan besar akibat cuaca ekstrem. Berdasarkan data terbaru, sekitar 1.387 hektare sawah di Tangerang terendam banjir setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari terakhir. Fenomena ini memicu kekhawatiran serius di kalangan petani terkait stabilitas stok pangan daerah. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang melaporkan bahwa luapan air sungai tidak hanya menggenangi lahan. Banjir tersebut juga merusak struktur tanaman yang baru saja memasuki masa tanam. Oleh karena itu, pemerintah daerah kini tengah melakukan pendataan intensif untuk memetakan total kerugian yang dialami sektor agraris. Dampak Banjir Terhadap Ketahanan Pangan Lokal Luasnya lahan sawah di Tangerang terendam banjir tentu berdampak langsung pada produktivitas padi. Air yang menggenang dalam waktu lama menyebabkan akar tanaman membusuk. Akibatnya, tanaman padi tidak dapat tumbuh maksimal bahkan mati sebelum masa panen tiba. Selain merusak tanaman, banjir ini juga membawa tumpukan lumpur ke area persawahan. Hal ini menyulitkan petani untuk segera melakukan penanaman ulang. Selain itu, biaya operasional yang sudah dikeluarkan oleh petani kini terancam hilang begitu saja tanpa ada pemasukan. Rincian Lahan yang Mengalami Gagal Panen (Puso) Berdasarkan hasil verifikasi lapangan, tingkat kerusakan lahan sangat bervariasi. Namun, angka yang paling mengejutkan adalah luas lahan yang sudah dipastikan gagal panen. Berikut adalah rincian datanya: Total lahan terdampak: 1.387 hektare. Lahan gagal panen (Puso): 194,5 hektare. Wilayah terdampak paling parah: Kecamatan Tigaraksa, Pakuhaji, dan Jayanti. Pemerintah menjelaskan bahwa angka 194,5 hektare tersebut dikategorikan sebagai puso karena tingkat kerusakan mencapai lebih dari 75%. Sementara itu, sisa lahan lainnya masih dalam tahap pemantauan untuk melihat potensi pemulihan setelah air surut. Langkah Penanganan dari Pemerintah Daerah Menanggapi bencana ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang tidak tinggal diam. Mereka segera berupaya memberikan bantuan teknis kepada para petani yang terdampak. Misalnya, penyediaan mesin pompa air untuk menyedot genangan di lahan yang masih memiliki harapan hidup. Selain bantuan alat, pemerintah juga mempertimbangkan pemberian benih gratis. Bantuan ini bertujuan agar petani bisa segera melakukan tanam ulang tanpa terbebani biaya bibit yang mahal. Namun, tantangan utamanya adalah cuaca yang masih belum menentu hingga saat ini. Upaya Mitigasi Jangka Panjang Selain memberikan bantuan darurat, langkah mitigasi jangka panjang juga sangat diperlukan. Masalah sawah di Tangerang terendam banjir merupakan masalah tahunan yang membutuhkan solusi struktural. Beberapa langkah yang direncanakan meliputi: Normalisasi saluran irigasi: Memastikan aliran air lancar dan tidak tersumbat sampah. Pembangunan tanggul: Melindungi area persawahan dari luapan sungai besar di sekitarnya. Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP): Mendorong petani untuk ikut serta dalam program asuransi agar kerugian finansial dapat teratasi. Dengan adanya asuransi, petani yang mengalami puso tidak akan kehilangan modal secara total. Oleh sebab itu, edukasi mengenai pentingnya asuransi tani kini terus digencarkan oleh penyuluh lapangan di setiap desa. Bencana banjir yang merendam 1.387 hektare sawah di Tangerang adalah peringatan bagi kita semua tentang dampak perubahan iklim. Kerugian akibat 194,5 hektare lahan yang gagal panen harus segera ditangani agar tidak mengganggu pasokan beras nasional. Sinergi antara pemerintah dan petani sangat krusial agar sektor pertanian tetap tangguh menghadapi tantangan cuaca.
