Kabar duka menyelimuti dunia pariwisata Pulau Dewata setelah seorang pelancong mancanegara dilaporkan kehilangan nyawa.
Insiden ini terjadi di kawasan perairan Tulamben, Karangasem, yang selama ini memang populer sebagai destinasi menyelam utama di Bali.
Korban merupakan seorang warga negara Australia yang sedang menikmati keindahan bawah laut sebelum musibah fatal itu terjadi.
Berdasarkan laporan awal, pria asal Negeri Kanguru tersebut diduga mengalami serangan panik atau panic attack saat berada di kedalaman air. Situasi tersebut memicu kondisi darurat medis yang membuat proses penyelaman terganggu secara mendadak. Meski sempat mendapatkan upaya pertolongan, nyawa sang turis tetap tidak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia.
Kawasan Tulamben dikenal luas oleh penyelam dunia karena keberadaan bangkai kapal USAT Liberty yang ikonik. Namun, di balik keindahannya, aktivitas olahraga ekstrem seperti scuba diving memang membawa risiko fisik dan psikologis yang nyata bagi siapa saja.
Pihak otoritas terkait saat ini tengah mendalami kronologi lengkap mengenai detik-detik sebelum korban mengembuskan napas terakhirnya. Kondisi cuaca dan arus di perairan Karangasem saat kejadian sebenarnya dilaporkan dalam keadaan yang relatif cukup normal untuk penyelaman.
Menurut keterangan beberapa saksi di lokasi, wisatawan tersebut terlihat menunjukkan gelisah saat mulai masuk ke kedalaman tertentu.
Serangan panik di bawah air adalah kondisi yang sangat berbahaya karena dapat mengganggu pola pernapasan dan memicu tindakan impulsif.
Dalam banyak kasus scuba diving, kepanikan sering kali membuat penyelam kehilangan kendali atas alat bantu napas mereka sendiri. Refleks untuk segera naik ke permukaan secara mendadak tanpa dekompresi yang tepat juga sering kali berakibat fatal bagi organ tubuh.
Proses evakuasi dilakukan segera setelah pemandu selam menyadari ada sesuatu yang tidak beres pada pergerakan korban. Tubuhnya ditarik ke daratan dengan harapan masih bisa dilakukan tindakan resusitasi jantung paru atau RJP oleh tim medis setempat.
Sayangnya, meski tim medis sudah berusaha maksimal, denyut nadi korban sudah tidak ditemukan lagi saat tiba di fasilitas kesehatan terdekat. Kejadian ini menambah daftar panjang insiden kecelakaan air yang melibatkan warga negara asing di wilayah hukum Bali.
Pihak Kepolisian setempat bersama tim Search and Rescue (SAR) terus mengumpulkan bukti-bukti untuk memastikan tidak ada unsur pidana dalam kejadian ini.
Investigasi juga mencakup pemeriksaan peralatan selam yang digunakan oleh korban apakah berfungsi normal atau mengalami kendala teknis.
Penyelaman scuba memerlukan ketenangan mental yang luar biasa selain kondisi fisik yang benar-benar prima sebelum terjun ke laut. Faktor psikologis seperti klaustrofobia atau rasa takut berlebih terhadap ruang sempit bawah air bisa memicu panic attack secara tiba-tiba bahkan pada penyelam berpengalaman sekalipun.
Wisatawan Australia yang tewas ini disebut-sebut memang sedang menjalani agenda liburan panjang di Bali bersama beberapa rekannya. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan teman-teman yang ikut dalam rombongan wisata tersebut.
Konsulat Jenderal Australia di Bali dilaporkan sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengurus kepulangan jenazah ke negara asalnya.
Prosedur standar dalam penanganan warga negara asing yang meninggal dunia di luar negeri tengah dijalankan sesuai protokol diplomatik.
Olahraga air di Bali, mulai dari selancar hingga menyelam, memang menjadi magnet utama bagi devisa negara. Namun, keselamatan tetap menjadi poin krusial yang sering kali terabaikan dalam euforia menikmati alam tropis.
Banyak instruktur selam senior menekankan pentingnya komunikasi yang jujur antara klien dan penyedia jasa mengenai riwayat kesehatan mental maupun fisik. Panic attack bukan sesuatu yang memalukan, namun jika terjadi di dalam air, ia berubah menjadi ancaman pembunuh yang sangat nyata.
Hingga kini, jenazah korban masih berada di rumah sakit untuk menunggu keputusan keluarga mengenai proses autopsi.
Pihak keluarga diharapkan segera memberikan izin atau pernyataan resmi terkait penanganan medis lanjutan bagi almarhum.
Masyarakat lokal di Tulamben mengaku cukup terkejut dengan kejadian ini mengingat korban didampingi oleh kru yang cukup berpengalaman. Industri wisata selam di Bali kini kembali berada di bawah sorotan tajam mengenai standar operasional prosedur keselamatan pelanggan mereka.
Pelatihan menghadapi situasi darurat bagi para penyelam pemula harusnya diperketat agar mereka tidak kehilangan kontrol saat menghadapi masalah di bawah laut. Ketenangan adalah kunci utama untuk bertahan hidup ketika peralatan atau kondisi alam tidak sesuai dengan ekspektasi saat menyelam.
Pesan mengenai risiko keselamatan olahraga air kembali menggema seiring dengan viralnya berita kematian turis Australia ini di media sosial. Wisatawan diminta untuk lebih waspada dan mengenali batas kemampuan diri sendiri sebelum memutuskan untuk melakukan aktivitas yang memicu adrenalin tinggi.
Sektor pariwisata Bali diharapkan tidak hanya menjual keindahan, tetapi juga jaminan keamanan yang lebih komprehensif bagi para pelancong mancanegara.
Setiap nyawa yang hilang di destinasi wisata tentu membawa dampak pada citra pariwisata Indonesia di mata internasional secara keseluruhan.
Kejadian di Tulamben ini menjadi catatan pahit di awal musim liburan tahun ini bagi para pecinta dunia bawah air. Semoga investigasi yang sedang berjalan bisa memberikan jawaban pasti mengenai penyebab utama kematian sang wisatawan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Kepergian sang penyelam asal Australia ini menjadi duka bersama bagi komunitas diving di seluruh dunia yang sering berkunjung ke Tulamben.
Mari kita hormati privasi keluarga korban di tengah masa sulit yang sedang mereka hadapi saat ini di tanah rantau.
Kematian tragis ini menutup lembaran perjalanan sang turis di Pulau Bali dengan cara yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun. Tetap waspada, tetap tenang, dan utamakan keselamatan saat berinteraksi dengan alam liar bawah laut yang penuh misteri.
